Shalat Isyraq

Shalat Isyraq adalah shalat sunnah dua raka’at yang dikerjakan setelah matahari terbit sekitar satu tombak, atau kira-kira lima belas menit setelah matahari terbit (syuruq). Shalat ini memiliki nilai keistimewaan tersendiri jika pra syaratnya dipenuhi yaitu shalat shubuh berjamaa’h yang diteruskan dengan berdzikir hingga menjelang waktu syuruq (matahari terbit).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ، كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ ، وَعُمْرَةٍ، تَامَّةٍ ، تَامَّةٍ ، تَامَّةٍ (رواه الترمذي

Artinya:
Siapa yang shalat Shubuh dengan berjamaah, lalu duduk berdzikir kepada Allah sehingga matahari terbit, kemudian shalat dua rakaat, maka ia mendapatkan pahala haji dan umrah sempurna (diulang tiga kali). (HR. Al-Tirmidzi).

Hadits ini menerangkan shalat sunnah dua rakaat setelah matahari terbit (shalat isyraq). Dan apabila yang mengerjakan shalat sunnah syuruq dilakukan setelah sebelumnya mengikuti subuh berjamaah dan dzikir, maka pahala yang didapat seperti melaksanakan haji dan umrah.

Cara Melaksanakan Shalat Isyraq

Cara melaksanakan Shalat Isyraq sama dengan shalat-shalat sunnah lain yang dikerjakan sebanyak 2 rakaat, dari mulai takbiratul ihram sampai salam, gerakan dan bacaannya sama. Perbedaannya hanya pada niatnya.

Niat Shalat Isyraq

أُصَلِّي سُنَّةَ الإشراق رَكْعَتَيْن لِلَّهِ تَعَالَى

"Ushalli sunnatal isyraqi rak’ataini lillahi ta’ala."

Artinya:
Aku niat shalat sunnah isyraq dua rakaat karena Allah.

Doa Shalat Isyraq

Adapun doa shalat isyraq adalah :

اَللَّهُمَّ يَا نُوْرَ النُّوْرِ بِالطُّوْرِ وَكِتَابٍ مَسْطُوْرٍ فِيْ رِقٍّ مَنْشُوْرٍ وَالبَيْتِ المَعْمُوْرِ أَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَنِيْ نُوْرًا أَسْتَهْدِيْ بِهِ إِلَيْكَ وَأَدُلُّ بِهِ عَلَيْكَ وَيَصْحَبُنِيْ فِيْ حَيَاتِيْ وَبَعْدَ الْاِنْتِقَالِ مِنْ ظَلاَم مِشْكَاتِيْ وَأَسْأَلُكَ بِالشَّمْسِ وَضُحَاهَا وَنَفْسِ مَا سِوَاهَا أَنْ تَجْعَلَ شَمْسَ مَعْرِفَتِكَ مُشْرِقَةً بِيْ لَا يَحْجُبُهَا غَيْمُ الْأَوْهَامِ وَلَا يَعْتَرِيْهَا كُسُوْفُ قَمَرِ الوَاحِدِيَّةِ عِنْدَ التَّمَامِ بَلْ أَدِمْ لَهَا الْإِشْرَاقَ وَالظُهُوْرَ عَلَى مَمَرِّ الْأَيَّامِ وَالدُّهُوْرِ وَصَلِّ اللَّهُمَّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَاتِمِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ اللهم اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَلِإِخْوَاِننَا فِي اللهِ أَحْيَاءً وَأَمْوَاتًا أَجْمَعِيْنَ

Allahumma yaa nuuron nuuri bith-thuuri wa kitaabim masthuurin fii riqqin mansyuurin wal baitl ma’muuri, as`aluka an tarzuqonii nuuron astahdii bihi ilaika wa adallu bihi ‘alaika wa yashhabunii fii hayaatii wa ba’dal intiqooli min dzolaami misykaatii, wa as`aluka bisy-syamsi wa dluhaaha wa nafsin maa siwaahaa an taj’ala syamsa ma’rifatika musyriqotan bii laa yahjubuhaa ghoimul auhaami walaa ya’tariihaa kusuufu qomaril waahidiyyah ‘indat tamaami bal adim lahaal isyrooqo wadz-dzuhuuro ‘alaa mamarril ayyaami wad-duhuuri. Wa shalli Allahumma ‘alaa sayyidinaa Muhammadin khootamil anbiyaa`I wal mursaliina walhamdu lillaahi Rabbil ‘aalamiina. Allahummaghfir lanaa waliwaalidiina wa liikhwaaninaa fillaahi ahyaa`an wa amwaatan ajma’iina

Artinya:
Ya Allah, Wahai Cahayanya Cahaya, dengan wasilah  bukit Thur dan Kitab yang ditulis  pada lembaran yang terbuka, dan dengan wasilah  Baitul Ma’mur, aku memohon padamu atas cahaya yang dapat menunjukkanku kepada-Mu. Cahaya yang dapat mengiringiku hidupku dan menerangiku setelah berpindah (ke alam lain; bangkit dari kubur) dari kegelapan liang (kubur) ku. Dan aku meminta padaMu dengan wasilah matahari beserta cahayanya di pagi hari, dan kemulyaan yang wujud pada selain matahari, agar Engkau menjadikan matahari ma’rifat padaMu (yang ada padaku) bersinar menerangiku, tidak tertutup oleh mendung-mendung keraguan, tidak pula terlintasi gerhana pada rembulan kemaha-esaan dikala purnama. Tapi jadikanlah padanya selalu bersinar dan selalu tampak, seiring berjalannya hari dan tahun. Dan berikanlah rahmat ta’dzim Wahai Allah kepada junjungan kami Muhammad, sang pamungkas para nabi dan Rasul. Dan segala Puji hanya milik Allah tuhan penguasa alam. Ya Allah ampunilah kami, kedua Orang tua kami serta kepada saudara-saudara kami seagama seluruhnya, baik yang masih hidup ataupun yang telah meninggal.

Shalat Tasbih

Shalat sunnat tasbih ialah shalat yang sebagaimana dianjurkan oleh Rasulullaah SAW kepada mamaknya Sayyidina Abbas ibn Abdul Muthalib.

Shalat tasbih ini dianjurkan untuk mengamalkannya, kalau bisa tiap - tiap malam, kalau tidak bisa tiap malam, maka sekali seminggu, kalau juga tak sanggup sekali seminggu, dapat juga dilakukan sebulan sekali atau setahun sekali, dan kalau tak bisa sekali setahun setidak - tidaknya sekali seumur hidup.

1. Kalau dikerjakan pada siang hari, hendaklah dikerjakan 4 raka'at dengan satu - salam.
2. Kalau dikerjakan pada malam hari, hendaklah empat raka'at itu dijadikan dua - salam.

Shalat ini disebut shalat tasbih, karena didalamnya dibacakan tasbih sehingga dalam 4 raka'at itu berjumlah 300 tasbih.

Cara mengerjakannya sebagai berikut :

a. Berdirilah lurus menghadap qiblat, lantas ucapkan lafazh niatnya - (diwaktu malam).


أُصَلِّي سُنَّةَ اْلتَّسْبِيْحِ رَكْعَتَيْن/ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ لِلَّهِ تَعَالَى

"Ushalli sunnatat tasbiihi rak'ataini / arba'a raka'atin lillahi ta'alaa" - "Allahu Akbar"

Artinya :
'Aku niat shalat tasbih dua raka'at / empat raka'at karena Allah, Ta'alaa - Allahu Akbar'

b. Selesai membaca do'a Iftitah, lalu membaca Surah, kemudian sebelumnya ruku' bacalah ''Tasbih'' 15 kali, yaitu :

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ واللهُ أَكْبَرُ

"Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar"

Artinya :
Maha suci Allah Yang Maha Esa, segala puji bagi Allah dan Allah dzat yang Maha Agung

c. Kemudian ruku', dan setelah membaca tasbih ruku', lalu membaca pula tasbih seperti tersebut di atas 10 kali, kemudian i'tidal.

d. Setelah selesai tahmid i'tidal, lantas membaca pula tasbih seperti tersebut di atas 10 kali, lantas sujud.

e. Diwaktu sujud, sehabis tasbih sujud, kemudian membaca tasbih seperti tersebut di atas 10 kali, lalu duduk antara dua sujud.

f. Setelah selesai membaca do'a duduk antara dua sujud, lantas membaca tasbih seperti tersebut diatas 10 kali, kemudian sujud kedua.

g. Pada sujud kedua setelah selesai membaca tasbih seperti tersebut diatas 10 kali, lantas sebelum berdiri ke raka'at kedua, kita hendaknya ''duduk istirahat'' lalu sambil duduk istirahat itu kita membaca tasbih seperti tersebut diatas 10 kali.

Demikainlah kita laksanakan pada raka'at pertama ini, yang apabila kita hitung seluruh bacaan tasbihnya berjumlah 75 kali tasbih, dan 75 x 4 raka'at = 300 tasbih.

Untuk lebih jelas kita nyatakan sbb :

Setelah selesai membaca surah pada raka'at,
sambil berdiri membaca tasbih ........................... 15 kali.
Waktu ruku' membaca tasbih lagi ........................ 10 kali.
Watu i'tidal membaca tasbih lagi ........................ 10 kali.
Waktu sujud membaca tasbih lagi ....................... 10 kali.
Waktu duduk antara dua sujud membaca tasbih ....... 10 kali.
Waktu sujud kedua membaca tasbih ..................... 10 kali.
Waktu duduk istirahat hendak berdiri ...................  10 kali.

Jumlah ....................................................... 75 kali.
Dikalikan ..... 4 raka'at , makat total .................. 300 tasbih.


Andaikata kita kelupaan membaca tasbih disatu - satu tempatnya, maka boleh digantikan di tempat berikutnya, agar tetap tasbihnya berjumlah 300 tasbih.

referensi: Risalah Tuntunan Shalat Lengkap (Drs. Moh. Rifa'i, 1976)

Shalat Dua Gerhana ( Kusufaian )

Shalat kusufaian ialah shalat dua gerhana, yakni shalat karena gerhana bulan dan gerhana matahari. Kalau gerhana bulan kita lakukan shalat Khusuf ( الخسوف ), dan kalau gerhana matahari kita lakukan shalat Kusuf ( الكسوف ), kedua shalat ini hukumnya sunnat muakkad.

Rasulullah bersabda:


إِنَّ الشَّمْسَ وَالقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا، فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا حَتَّى يَنْجَلِيَ

Artinya :
Sesungguhnya matahari dan bulan adalah sebuah tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Keduanya tidak menjadi gerhana disebabkan kematian seseorang atau kelahirannya. Bila kalian mendapati gerhana, maka lakukanlah shalat dan berdoalah hingga selesai fenomena itu. (HR. Bukhari, Muslim)

Waktu melakukan shalat gerhana matahari yaitu dari timbul gerhana itu sampai matahari kembali sebagaimana biasa, atau sampai terbenam. Sedang shalat gerhana bulan waktunya mulai dari terjadinya gerhana itu sampai terbit kembali, atau sampai - bulan nampak utuh.

Cara mengerjakannya :

Shalat gerhana dilakukan tanpa didahului dengan azan atau iqamat. Yang disunnahkan hanyalah panggilan shalat dengan lafaz “Ash Shalatu Jamiah“. Dalilnya adalah hadits berikut: "Dari Abdullah bin Umar ra. berkata bahwa Rasulullah SAW. mengutus orang yang memanggil shalat dengan lafaz: Ash shalatu jamiah”. (HR. Muttafaqun alaihi).

Shalat dua raka'at sebagaimana shalat biasa, boleh dilakukan sendiri - sendiri, tetapi lebih utama dilakukan berjama'ah.
  • Shalat dua raka'at dengan 4 kali ruku' , dan 4 kali sujud, yakni pada raka'at pertama sesudah ruku' dan I'tidal membaca surat Fatihah lagi, kemudian terus ruku sekali lagi, dan i'tidal lagi, kemudian terus sujud sebagaimana biasa. 
  • Pada raka'at kedua juga dilakukan seperti pada raka'at yang pertama. Dengan demikian shalat gerhana itu semuanya ada 4 ruku' , 4 Fatihah dan 4 sujud. 
  • Bacaan fatihah dan surat dalam shalat gerhana bulan dinyaringkan, sedang dalam gerhana matahari tidak dinyaringkan. Dalam membaca surat pada tiap - tiap raka'at disunnatkan membaca surat - surat yang panjang.
Jika shalat gerhana itu dikerjakan seperti shalat biasa dua raka'at dengan ruku' , maka tidak ada halangan, yakni cukup sah pula.

Niat Shalat Gerhana
Lafazh / niatnya (gerhana bulan) :

أُصَلِّيْ سُنَّةَ لِخُسُوْفِ الْقَمَرِ رَكْعَتَيْنِ (مَأْمُوْمًا\إِمَامًا) لِلَّهِ تَعَالَى

"Ushallii Sunnatal Khusuufil-Qomari Rak’ataini Lillahi Ta’alaa"

Artinya :
Saya niat (melaksanakan) shalat sunnah Gerhana Bulan dua rakaat karena Allah ta’ala

Lafazh / niatnya (gerhana matahari) :

أُصَلِّيْ سُنَّةَ لِكُسُوْفِ الشَّمسِ رَكْعَتَيْنِ (مَأْمُوْمًا\إِمَامًا) لِلَّهِ تَعَالَى

"Ushallii Sunnatal Kusuufis-Syamsi Rak’ataini Lillahi Ta’alaa"

Artinya :
Aku niat (melaksanakan) shalat sunnah Gerhana Matahari dua rakaat karena Allah ta’ala

Khutbah Shalat Gerhana

Setelah shalat ini juga dilakukan dengan khutbah, menurut pendapat Asy Syafi`i khutbahnya seperti layaknya khutbah Idul Fithri dan Idul Adha dan juga khutbah Jumat.


Isi khutbah Rasulullah adalah memuji Allah dengan puji-pujian kepadaNya, lalu beliau bersabda:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهَا فَافْزَعُوا لِلصَّلاَةِ

Artinya:
Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda kekuasaan Allah Azza wa Jalla. Terjadinya gerhana matahari atau bulan itu bukanlah karena kematian seseorang atau kehidupannya. Oleh karena itu, jika kau menyaksikan gerhana bergegaslah untuk mengerjakan shalat. (HR. Muslim)

Dalam hadits yang lain beliau bersabda,

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ

Artinya:
Sesungguhnya matahari dan bulan itu adalah dua tanda kekuasaan Allah. Terjadinya gerhana matahari dan bulan itu bukanlah karena kematian atau kehidupan seeorang. Maka jika engkau melihatnya, ingatlah dan berzikirlah kepada Allah. (HR. Bukhari dan Muslim)

Syaikh Wahbah Az Zuhaili menjelaskan, dalam khutbah shalat gerhana hendaknya khatib menyampaikan kepada jamaah tentang taubat dari segala dosa, berbuat kebaikan seperti sedekah, berdoa dan beristighfar.

Doa Setelah Shalat Gerhana

Disunnahkan berdoa setelah shalat gerhana. Doa di waktu ini merupakan salah satu doa yang mustajabah.

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ يُخَوِّفُ بِهِمَا عِبَادَهُ وَإِنَّهُمَا لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ فَإِذَا رَأَيْتُمْ كُسُوفَ أَحَدِهِمَا فَصَلُّوا وَادْعُوا حَتَّى يَنْكَشِفَ مَا بِكُمْ

Sesungguhnya matahari dan bulan itu adalah dua tanda kekuasaan Allah, agar hamba takut kepada-Nya. Terjadinya gerhana matahari dan bulan itu bukanlah karena kematian seseorang. Maka jika engkau melihatnya, shalatlah dan berdoalah hingga gerhana itu tersingkap dari kalian. (HR. An Nasa’i; shahih)

Demikian niat shalat gerhana bulan, tata cara, hingga contoh khutbah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Wallahu a’lam bish shawab.