Shalat Hajat

Shalat hajat ialah shalat sunat yang dikerjakan karena mempunyai hajat, agar diperkenankan hajatnya oleh Allah SWT. Di dalam hadist yang telah di riwayatkan oleh Imam Turmudzi dan Ibnu Majah menerangkan, bahwa Rasulullah SAW telah bersabda :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَتْ لَهُ إِلَى اللَّهِ حَاجَةٌ أَوْ إِلَى أَحَدٍ مِنْ بَنِي آدَمَ فَلْيَتَوَضَّأْ فَلْيُحْسِنْ الْوُضُوءَ ثُمَّ لِيُصَلِّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ لِيُثْنِ عَلَى اللَّهِ وَلْيُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ لِيَقُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ ……. يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

Artinya:
Dari Abdullah bin Abu Aufa, ia berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Barangsiapa yang mempunyai hajat kepada Allah, atau kepada salah seorang dari bani Adam (manusia), maka hendaklah ia berwudlu serta membaguskan wudlu’nya kemudian shalat dua raka’at. Terus (setelah selesai shalat) hendaklah ia menyanjung Allah dan bershalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ia mengucapkan (do’a) : Laa ilaaha illallahul haliimul kariim’ (dan seterusnya sampai) ‘ya arhamar rahimin. [Riwayat Tirmidzi (dan ini lafadznya), Hakim dan Ibnu Majah]

Sebenarnya tidak ada panduan khusus yang menyatakan kapan waktu sholat hajat yang tepat. Sholat ini dapat dikerjakan kapanpun, saat siang hari maupun malam hari, kecuali pada waktu waktu yang diharamkan atau dilarang untuk shalat. Akan tetapi, para ulama berpendapat bahwa akan lebih baik jika sholat hajat ini dikerjakan pada waktu sepertiga malam terakhir, yakni sekitar pukul 01.00 sampai waktu subuh tiba 05.00. Seperti diketahui bahwa waktu sepertiga malam terakhir merupakan waktu yang mustajab ketika kita memanjatkan doa. Berdoa pada waktu tersebut memiliki keutamaan tersendiri dibanding waktu-waktu lainnya.

Shalat hajat dilaksanakan minimal 2 (dua) raka'at sampai dengan 12 (dua belas) raka'at, dengan tiap - tiap dua raka'at satu salam.

Lafazh niatnya ialah :

أُصَلِّي سُنَّةَ الحَاجَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعاَلَى

"Ushollii sunnatal haajati rok’aataini lillaahi ta’aala" "Allahu-Akbar"

Artinya :
Aku niat shalat sunat hajat dua raka'at karena Allah ta'alaa. Allahu Akbar

Do'a Shalat hajat

Apabila telah selesai shalat hajat, lalu duduklah kita dengan khusyu', lalu membaca istighfar. Dalam Kitab Tajul Jamil lil ushul, dianjurkan : Selesai shalat hajat membaca istighfar 100 kali, yakni membaca :

اَسْتَغْفِرُ اَللّهَ الْعَظِیْمَ

"Astaghfirullah hal adzim"

Artinya :
Aku memohon ampunan kepada Allah yang Maha Besar / Agung'

 Atau yang lebih lengkap bacaan istighfar sbb :


"Astaghfirullaaha rabbii min kulli dzanbin wa-atuubu ilaihi"

Artinya :
Aku memohon ampun kepada Allah Tuhanku, dari dosa - dosa dan aku bertaubat kepadaMu

Setelah membaca istighfar lalu membaca shalawat atas Nabi SAW 100 kali, yakni membaca :

اللهم صل على سـيدنا محمد صلاة الرضا وارض عن اصحابه رضاءالرضا

"Allahuma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammadin shalaatarridhaa wardha ‘an ashaabihir ridhar ridhaa."

Artinya :
Ya Allah,beri karunia kesejahteraan atas junjungan kami Muhammad, kesejhteraan yang diridlai,dan ridlailah dari pada shahabat shahabat sekalian.

Sesudah itu membaca do'a sebagai berikut :

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْحَلِيْمُ الْكَرِيْمُ سُبْحَانَ اللهِ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَسْأَلُكَ مُوْجِبَاتِ رَحْمَتِكَ وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ وَالْغَنِيْمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ وَالسَّلاَمَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ لاَتَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ وَلاَ حَاجَةً هِىَ لَكَ رِضَا إِلاَّ قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

"Laa ilaha illallahul haliimul kariimu subhaanallahi rabbil ‘arsyil ‘azhiim. Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin. As `aluka muujibaari rahmatika wa ‘azaaima maghfiratika wal ghaniimata ming kulli birri wassalaamata ming kulli itsmin Laa tada’ lii dzamban illa ghafartahu walaa hamman illaa farajtahu walaa haajatan hiya laka ridhan illa qadhaitahaa yaa arhamar raahimiin."

Artinya :
Tidak ada Tuhan melainkan Allah yang Maha Penyantun dan Pemurah. Maha suci Allah, Tuhan pemelihara 'arasy yang Maha Agung. Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. Kepada Mulah aku memohon sesuatu yang mewajibkan rahmat Mu, dan sesuatu yang mendatangkan ampunan Mu, dan memperoleh keuntungan pada tiap - tiap dosa. Janganlah Engkau biarkan dosa dari pada diri ku, melainkan Engkau ampuni dan tidak ada sesuatu kepentingan melainkan Engkau beri jalan keluar, dan tidak pula sesuatu hajat yang mendapat kerelaanMu, melainkan Engkau kabulkan. Wahai Tuhan yang paling Pengasih dan Penyayang''. (H.R. Tumudzi dan Ibnu Abi Aufa).

Kemudian mohonlah apa yang dimaksud, sambil bersujud kepada Allah, dan perbanyaklah bacaan :

لَّا إِلَهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

"Laa Ilaaha Illa Anta  Subhanaka Inni Kuntu Minadz Dzalimiin"

Artinya:
Tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk dalam golongan orang-orang yang dhalim…!
(QS. Al-Anbiya’/ 21: 87)

Keteranagan : Shalat hajat ini laksanakanlah semalam, atau tiga malam samapi tujuh malam, tergantung pada penting dan urgensinya serta sulit maksud kita ini. Insya Allah hajat kita ini terkabul.

referensi: Risalah Tuntunan Shalat Lengkap (Drs. Moh. Rifa'i, 1976)

Shalat Tahiyyatul Masjid

Shalat tahiyyatul masjid ialah shalat sunnat yang dikerjakan oleh jama'ah yamg sedang masuk ke masjid, baik pada hari Jum'at maupun lainnya, diwaktu malam atau siang.

Jika kita masuk kedalam masjid, hendaklah sebelum duduk kita mengerjakan shalat sunnat dua raka'at. Shalat sunnat ini di sebut shalat tahiyyatul masjid, artinya shalat untuk menghormati masjid.

Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam bersabda,

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ

Artinya:
Jika salah seorang dari kalian masuk masjid, maka hendaklah dia shalat dua rakaat sebelum dia duduk. (HR. Al-Bukhari & Muslim)

Cara mengerjakan shalat sunnah tahiyatul masjid sama seperti mengerjakan shalat sunnah lain pada umumnya hanya niatnya yang berbeda.

Lafazh niatnya sebagai berikut :

اُصَلِّى سُنَّةً تَحِيَّةُ الْمَسْجِدِ رَكْعَتَيْنِ ِللهِ تَعَالَى

"Ushalli sunnata tahiyyatal masjidi rak'ataini lillaahi ta'aala" - "Allahu akbar"

Artinya :
Aku niat shalat sunnat tahiyatal masjid dua raka'at karena Allah Ta'ala. Allahu - Akbar.

Orang yang masuk ke masjid dikala khatib sedang berkhuthbah, hendaklah shalat - tahayyatul masjid dilakukan dengan ringan, artinya jangan terlalu lama, untuk segera dapat mendengarkan khuthbah.

Shalat Dhuha

Shalat dhuha ialah shalat sunnat yang dikerjakan pada waktu matahari sedang naik. Waktu shalat dhuha ini kira - kira matahari sedang naik tinggi kurang lebih tujuh hasta (pukul tujuh sampai masuk waktu zhuhur).

Sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA dalam hadist sebagai berikut:

قاَلَ رَسُوُل اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ مَنْ حَا فَظَ عَلَى شُفْعَةِ الضَّحَى غَفِرَ لَهُ ذُ نُوْ بُهُ وَ اِنْ كَا نَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ 

"Qaala Rasulullahi SAW : Man haafazha 'alaa syuf'atidh dhuha, ghufira lahu dzunubuhu wain kaanat mitsla zabadil bahri."

Artinya :
Siapa saja yang dapat mengerjakan shalat dhuha dengan langgeng, akan diampuni dosa - dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak busa lautan. (H R Turmudzi)

Sekurang - kurangnya shalat dhuha dilakukan dua raka'at, boleh empat raka'at, atau delapan raka'at.

Bacaan surat dalam shalat dhuha pada raka'at pertama ialah surat Asy Syamsu (Wasy Syamsi wadhuhaaha) dan pada raka'at kedua surat Adh-dhuha (Wadh-dhuhaa wal-laili).

Lafazh niatnya sbb :

اُصَلِّى سُنَّةَ الضَّحَى رَكْعَتَيْنِ ِللهِ تَعَالَى

"Ushalli sunnatadh dhuha rak'ataini lillaahi ta'ala. Allahu akbar"

Artinya :
Aku niat shalat sunat dluha dua raka'at, karena Allah ta'ala. Allahu Akbar.

Do'a yang dibaca setelah selesai shalat dhuha :

اَللهُمَّ اِنَّ الضُّحَآءَ ضُحَاءُكَ، وَالْبَهَاءَ بَهَاءُكَ، وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ، وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ، وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ، وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ. اَللهُمَّ اِنْ كَانَ رِزْقِى فِى السَّمَآءِ فَأَنْزِلْهُ وَاِنْ كَانَ فِى اْلاَرْضِ فَأَخْرِجْهُ وَاِنْ كَانَ مُعَسَّرًا فَيَسِّرْهُ وَاِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَاِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحَاءِكَ وَبَهَاءِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ آتِنِىْ مَآاَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ

"Allahumma innadh dhuha-a dhuha-uka, wal bahaa-a bahaa-uka, wal jamaala jamaaluka, wal quwwata quwwatuka, wal qudrata qudratuka, wal ishmata ishmatuka. Allahuma inkaana rizqi fis samma-i fa anzilhu, wa inkaana fil ardhi fa-akhrijhu, wa inkaana mu’asaran fayassirhu, wainkaana haraaman fathahhirhu, wa inkaana ba’idan fa qaribhu, bihaqqiduhaa-ika wa bahaaika, wa jamaalika wa quwwatika wa qudratika, aatini maa ataita ‘ibadikash shalihin."

Artinya :
Ya Allah, bahwasanya waktu dhuha itu waktu dhuha-Mu, kecantikan ialah kecantikan-Mu, keindahan itu keindahan-Mu, kekuatan itu kekuatan-Mu, kekuasaan itu kekuasaan-Mu, dan perlindungan itu, perlindungan-Mu. Ya Allah, jika rizkiku masih di atas langit, turunkanlah dan jika ada di dalam bumi, keluarkanlah, jika sukar mudahkanlah, jika haram sucikanlah, jika masih jauh dekatkanlah, berkat waktu dhuha, keagungan, keindahan, kekuatan dan kekuasaan-Mu, limpahkanlah kepada kami segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba - hamba-Mu yang shaleh.

referensi: Risalah Tuntunan Shalat Lengkap (Drs. Moh. Rifa'i, 1976)